Pahlawan yang Gugur
Oleh: M. Afifuddin
Daun pasti jatuh dari tangkai
Pasti begitu pun manusia
Begitu pun hidup ini dirangkai
Mengelak hanya sia-sia
Dan semua memang tertata
Terencana dengan tepat merata
Kapan, dimana, akan kemana
Tapi para pahlawan yang gugur
Mereka tak sirna
Bumi segan mencerna
Kita pun merana
Mendamba kebajikan yang kini membujur
* * *
Jejak-jejaknya masih hangat
Tampak di lorong-lorong waktu
Gedung, halaman berpaving, jembatan
Jalanan beraspal, pepohonan di pinggir
Di sana tersimpan mozaik memori
Yang bahkan debu pun mengenangnya
Dia hanya seorang bocah
Dengan senyum simpul renyah
Perawakan biasa, manusia biasa
Namun dedikasinya luar biasa
Dia sudah pergi,
“Sudah masuk,” katanya dalam mimpi seorang kawan
Entah,
Tentu saja aku tak menantang kepastian-Nya
Tapi ijinkanlah jiwa ini memahatnya
Dalam bujuran kertas
Dia, memang, bukankah sejajar dengan raja-raja dalam prasasti?
***
Aku yang tak mudah melupa
Aku yang demikian rupa terus mencerna masa lalu
Agaknya berat bila hanya disimpan dalam benak sebesar tugu
Maka biar secarik prasasti ini menyimpan sebagian
Bila kelak harus teringat, tak perlu tergorok benak ini
Karena betapa banyak memori yang tak bisa dihapusnya, dilupakannya
***
“Namaku Hafiz. Mudah ‘kan diingat? Ha-fiz,” katanya tersenyum
Di koridor lantai tiga.
Hari kedua, Senin?
Bajunya berwarna hitam kala itu.
Aku suka memergokinya menulis di kamarnya yang bersebelahan
Sempat kudengar, kira-kira katanya, “Menjadi jurnalis”
Dan dalam gurau, aku mulai memanggilinya mas Wartawan
. . .
***
“Sejak awal dia selalu kelihatan kurang sehat,” kata seorang kawan beberapa hari setelah malam buta itu
“Pasti karena pikulan khidzmah yang diembannya, bukan sakit,” jawabku tak terdengar
“Dia anak yang manis,” ujar seorang kolega sebidang, di serambi
“Kau mungkin pernah jatuh hati padanya ya?” hatiku berisik cekikikan mendengarnya
“Ini pas pemakamannya,” sebuah gambar di hape diselonjorkan
“Pas hujan. Katanya di sini juga hujan ya kala itu?” lanjutnya.
“Sungguh luar biasa ya dia,” lanjutnya lagi.
“Ya, dia luar biasa. Dia berbuat banyak untuk banyak orang . . .
Banyak orang berbuat banyak untuk dia,” simpul hati yang terkenang
“Hujan pun ikut bersedih untuknya, seperti dulu ketika para pendekar bersorban meninggal. ”
***
Dia sudah dipanggil
Kita telah mengantarnya,
Dengan jasad dzohir kita, maupun do’a kita
Sampai manakah perjalanannya?
Semoga cepat sampai cita-cita hakikinya,
juga kita
Semoga kebajikan menjadikan perjalanannya bagai rekreasinya,
juga kita
***
Kita masih mengembara di sini
Di hari-hari menggalang bekal kesana
Kita pasti juga menyusul
-Semoga kita dimudahkan menuju kebaikan-
Karena,
Daun pasti jatuh dari tangkai
Tapi para pahlawan yang gugur
Mereka tak sirna . . .
-WaLlahu a’lam-
Surabaya, Ujung November – 04 Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar