Pages

Kamis, 13 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012

Dari puisi sebelumnya "berbuat banyak untuk banyak orang" itulah yang tepat disandangkan padamu. Kau telah berbuat banyak untuk orang disekitarmu, untuk anak jalanan, untuk anak miskin yang tidak mampu sekolah dan siapa pun yang membutuhkan bantuanmu. Orang macam apa kau ini, kebaikanmu yang tak pandang bulu sungguh luar biasa. Kau mampu melihat kebaikan dari diri tiap manusia. Kritikmu tak pernah menyakitkan. Yaaa,,sebagai orang yang sering kau kritik, aku tak pernah merasa sakit hati. Hemmm biasanya tiap magrib aku selalu ada teman untuk jalan kaki ke masjid dekat kontrakan, sekarang berbeda. Yang setiap habis sholat subuh melantunkan ayat-ayat Ilahi. Maaf sahabat aku tak mampu berbuat banyak untukmu. Tapi kebaikan yang kau tanam dihati ini akan aku rawat dan siram agar tumbuh subur.

Puisi dari teman untuk sahabat

Hai sahabatku yang tertidur nyenyak di pusaramu. Ada teman kita yang membuat puisi buatmu. Ini aku cuplik puisinya buatmu...


Pahlawan yang Gugur
Oleh: M. Afifuddin

Daun pasti jatuh dari tangkai
Pasti begitu pun manusia
Begitu pun hidup ini dirangkai
Mengelak hanya sia-sia

Dan semua memang tertata
Terencana dengan tepat merata
Kapan, dimana, akan kemana

Tapi para pahlawan yang gugur
Mereka tak sirna
Bumi segan mencerna
Kita pun merana
Mendamba kebajikan yang kini membujur

* * *

Jejak-jejaknya masih hangat
Tampak di lorong-lorong waktu
Gedung, halaman berpaving, jembatan
Jalanan beraspal, pepohonan di pinggir
Di sana tersimpan mozaik memori
Yang bahkan debu pun mengenangnya

Dia hanya seorang bocah
Dengan senyum simpul renyah
Perawakan biasa, manusia biasa
Namun dedikasinya luar biasa

Dia sudah pergi,
“Sudah masuk,” katanya dalam mimpi seorang kawan

Entah,

Tentu saja aku tak menantang kepastian-Nya
Tapi ijinkanlah jiwa ini memahatnya
Dalam bujuran kertas
Dia, memang, bukankah sejajar dengan raja-raja dalam prasasti?

***

Aku yang tak mudah melupa
Aku yang demikian rupa terus mencerna masa lalu
Agaknya berat bila hanya disimpan dalam benak sebesar tugu
Maka biar secarik prasasti ini menyimpan sebagian
Bila kelak harus teringat, tak perlu tergorok benak ini
Karena betapa banyak memori yang tak bisa dihapusnya, dilupakannya

***

“Namaku Hafiz. Mudah ‘kan diingat? Ha-fiz,” katanya tersenyum
Di koridor lantai tiga.
Hari kedua, Senin?
Bajunya berwarna hitam kala itu.
Aku suka memergokinya menulis di kamarnya yang bersebelahan
Sempat kudengar, kira-kira katanya, “Menjadi jurnalis”
Dan dalam gurau, aku mulai memanggilinya mas Wartawan

. . .

***

“Sejak awal dia selalu kelihatan kurang sehat,” kata seorang kawan beberapa hari setelah malam buta itu
“Pasti karena pikulan khidzmah yang diembannya, bukan sakit,” jawabku tak terdengar
“Dia anak yang manis,” ujar seorang kolega sebidang, di serambi
“Kau mungkin pernah jatuh hati padanya ya?” hatiku berisik cekikikan mendengarnya
“Ini pas pemakamannya,” sebuah gambar di hape diselonjorkan
“Pas hujan. Katanya di sini juga hujan ya kala itu?” lanjutnya.
“Sungguh luar biasa ya dia,” lanjutnya lagi.
“Ya, dia luar biasa. Dia berbuat banyak untuk banyak orang . . .
Banyak orang berbuat banyak untuk dia,” simpul hati yang terkenang
“Hujan pun ikut bersedih untuknya, seperti dulu ketika para pendekar bersorban meninggal. ”

***

Dia sudah dipanggil
Kita telah mengantarnya,
Dengan jasad dzohir kita, maupun do’a kita
Sampai manakah perjalanannya?
Semoga cepat sampai cita-cita hakikinya,
juga kita
Semoga kebajikan menjadikan perjalanannya bagai rekreasinya,
juga kita

***

Kita masih mengembara di sini
Di hari-hari menggalang bekal kesana
Kita pasti juga menyusul
-Semoga kita dimudahkan menuju kebaikan-

Karena,
Daun pasti jatuh dari tangkai
Tapi para pahlawan yang gugur
Mereka tak sirna . . .

-WaLlahu a’lam-

Surabaya, Ujung November – 04 Desember 2012

Jumat, 07 Desember 2012

Selamat tidur sahabatku....

Ini kesedihanku... Yaaa kesedihanku karena ditinggal "pulang" sahabatku yang paling baik. Gatau kenapa, ini kesedihan yang kayak gimana. Kesedihan hingga air mata tak keluar setetes pun, hanya rasa menyesakkan didada. Teringat jam 12 malam aku melangkah setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit, dengan perasaan yang tak karuan, kemudian melewati kerumunan yang kebanyakan aku kenal, salah satu dari mereka menunjuk sebuah ruang, memberi isyarat untuk masuk. Kemudian aku pun masuk, dan yang kulihat adalah tubuh sahabatku terbujur kaku ditutupi selimut. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un....Ya Allah begitu cepat Kau menjemput sahabatku..." Kemudian aku buka selimut yang menutupi wajahnya. Aku lihat wajah sahabatku untuk terakhir kalinya. Terlihat bekas luka jahit di kepala sebelah kiri, dan wajah yang memucat dan bibir yang menghitam. Petugas pun datang untuk memandikan jenazah, aku bantu mengangkat jenazah untuk dipindahkan ke keranda. "Astaghfirullah hal adzim,,kenapa tubuhmu dingin sekali sahabatku,,apakah aku perlu membakar sesuatu untuk menghangatkanmu,,katakan apa yang kau mau pasti aku beri sahabatku..." 

Tak bermaksud untuk mengingkari takdir, tapi ini kesedihan terdalam yang pernah aku rasakan. Hari-hari berlalu dan aku masih merindukannya. Ketika melihat barang-barangnya yang masih ada di kontrakan, perasaan sedih tiba-tiba meluap ke permukaan. Sampai sekarang aku masih tak percaya sahabatku yang juga sekontrakan telah tiada. Benar-benar ga percaya...tapi biarlah kesedihan ini kupendam dalam-dalam, tak perlu orang lain melihat wajah sedihku.

Sahabatku, kau orang baik dan kau sangat pantas mendapatkan tempat terbaik di sisi Sang Khaliq...mimpi indah dalam tidurmu yang abadi sahabatku, Hafizuddin Ahmad...