KKN ceria, dua buah kata yang sepertinya cocok untuk disandarkan dengan kegiatan saya saat ini. Yaa dengan segala keterbatasan wilayah geografis yang cukup sulit, kita malah bisa menikmatinya. Suasana desa yang benar-benar masih hijau dan seperti tidak tersentuh dengan polusi perkotaan. Jalan yang berlumpur menjadi tantangan buat kita dalam menjalankan program sehari-hari, dan itu malah menjadi hiburan buat kita. Suara hewan ternak menjadi musik latar setiap hari. Penduduk yang ramah dan murah senyum yang selalu membalas sapaan kami. Induk semang yang memegang prinsip melayani tamu sebaik-baiknya benar-benar diterapkan beliau. Hingga berefek pada berat badan kami yang meningkat. Kita merasa seakan-akan ini rumah sendiri. Ga tega untuk membayangkan bagaimana kita akan merasa berat untuk meninggalkan rumah sederhana namun penuh kehangatan ini.
Berbeda dengan kehidupan di kota, di desa Meduri ini kekeluargaan benar-benar terasa. Tolong-menolong dan kegotong-royongan terlihat jelas di desa ini. Kami pun merasakan atmosfer kehangatan ketika kita berjalan menyusuri desa ini. Penduduk yang kita lewati selalu memberi respon yang sama, menyapa dengan senyum tulus dan mempersilahkan kita untuk mampir. Kepala desa yang mendedikasikan hidupnya untuk desa ini sangat kita rasakan. Orang yang rela meninggalkan kehidupan yang mapan hanya untuk membangun desanya dari minus menjadi nol, yahh itu lah visi sederhana seorang Bapak Hari, kepala desa Meduri.
Foto di atas adalah foto ketika kita menanam 77 bibit pohon mahoni di tanah pekuburan bersama Pak Wo, orang yang sepertinya bertanggung jawab terhadap lingkungan desa. Kami benar-benar menikmati kegiatan demi kegiatan yang kami lakukan. Ga ada keterpaksaan atau tekanan, karena kami melakukan dengan ceria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar