Pages

Rabu, 08 Februari 2012

Petuah Kyai Sepuh

Teringat tentang "pelajaran" dari kyai sepuh, KH. Dimyathi Romly, tentang bagaimana cara menulis surat cinta untuk seorang wanita yang kita sukai dengan aman agar tidak dapat diselidiki keamanan. Maklumlah di pondok pesantren ada keamanan yang bagi santri merupakan momok. Dan beruntungnya, beliau menjadi pengasuh Asrama 7 Al-Husna, yang merupakan asramaku selama 3 tahun nyantri di PP. Darul Ulum Jombang. Beliau menjadi salah satu Kyai panutan bagi santri-santri karena memang beliau sangat mengerti tentang keinginan dan kebutuhan santri. Dan perlu diketahui bahwa dahulu beliau mendapat gelar "Dokter hati" oleh presiden RI.

Inilah salah satu contoh surat yang dieja secara lisan oleh beliau di sela-sela mengaji kitab Tafsir Yaasin.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Pernahkan kau tahu tentang cerita si rumput kering? itulah aku, rumput kering di tengah padang pasir tandus. Batang dan daunku menguning diterpa panasnya sinar matahari. Aku terus bertahan demi sesuatu yang tidak pasti. Wahai awan, sudikah engkau memberiku setetes hujan untukku. Agar aku bisa tumbuh subur. Agar batang dan daunku kembali hijau. Tanpanya mungkin aku tidak bisa bertahan lebih lama. Aku mohon awan.

Teruntuk dirimu, wahai tetes hujan.
Dariku, rumput kering.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Ini mungkin ga sama dengan aslinya, soalnya memang ingatan penulis yang lupa-lupa ingat. Tapi, ada satu petuah dari Kyai yang teringat jelas di ingatanku. "Apapun yang terjadi, jangan pernah melukai perasaan manusia. Jika putus, putuslah dengan baik-baik. Karena hal tersebut dapat berpengaruh pada kehidupanmu kemudian."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar