Terbangun dari tidur melihat jam dinding menunjukkan pukul empat sore. Segera ku beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudlu. Ku basuhkan air ke muka basuh demi basuh dan seketika itu kantuk pun meluntur bersama dengan air yang mengalir. Kembali ke kamar kupakai baju khususku untuk menghadap Sang Pencipta, baju koko putih dan sarung berwarna cokelat kotak-kotak, kuhamparkan sajadah lebar berwarna cokelat muda di lantai, dan kumulailah ritual penyembahan "Allahu Akbar..."
Setelah selesai sholat dan berdoa, memohon kekuatan dan kebahagian untuk orang-orang yang aku sayangi, kutersadar suara yang tak asing aku dengar, tetes demi tetes syahdu suara hujan yang tidak terlalu lebat. Setelah membereskan perlengkapan sholat, aku pun beranjak ke teras rumah. Kemudian aku duduk di sebuah kursi panjang terbuat dari rotan berwarna coklat muda dengan bantalan berwarna cokelat tua. Hanya duduk diam dan mendengarkan bunyi rintik-rintik hujan, melihat tetes demi tetes air jatuh dan menghujam tanah seakan-akan malaikat yang jatuh ke bumi. Sungguh menenangkan dan mendamaikan hati, inilah meditasiku. Bau khas petrichor merupakan hal yang paling aku suka, pikiranku pun terhipnotis untuk membayangkan kembali kenangan masa lalu. Semakin dalam kuhirup baunya, semakin aku terbawa kemasa lalu. Dan terbayanglah bocah kecil berumur sekitar 5 tahun yang bermain di pinggir rumah yang kala itu masih gerimis. Bocah itu dengan tangan kecilnya memainkan genangan air hujan. Dengan wajah sangat bahagia dia bermain dengan menyanyikan lagu anak-anak. Di sampingnya terlihat perempuan separuh baya sedang memegang piring berisikan nasi dan lauk ayam kesukaan anak itu. Sesekali dia bilang ke anak itu "Ayo le aaaakk...." dan anak tersebut pun membuka mulutnya, dan wanita tersebut pun menyuapkan sesendok nasi dan lauk ayam. Anak tersebut pun mengunyah makanan sambil terus sibuk memainkan air, tidak lama anak tersebut berkata "Ibu krupuknya manaaa??" kemudian wanita tersebut menyuil ujung krupuk yang dia taruh dipiring dan menyuapkan ke anak tersebut. Anak pun mengunyah lagi makanannya dan kemudian melanjutkan memainkan air hujan yang sangat dia suka. Dengan tangan kecil dia menggerakkan di air, entah berimajinasi tentang apa, yang jelas keluguan dan ke-apa ada-nya yang tersirat dari tingkah polos anak tersebut. Harapan tentang sebuah masa depan yang damai terpanggul di pundak seorang anak kecil.
Kemudian aku pun tersentak dan kembali dari kenangan masa lalu. Tersadar bahwa hujan sudah mereda dan waktu sudah mau magrib. Aku pun beranjak dari kursi dengan wajah cerah. Telah timbul sebuah semangat baru untuk menjalani hidup ini dengan penuh arti. Teringat cita-cita masa lalu semakin merasuk hingga pembuluh nadiku. Tekadku pun semakin bulat "Jadi apa pun aku nanti tak masalah, hidup sekali harus berarti."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar