Pages

Minggu, 22 Juli 2012

Kura-kura dan kupu-kupu

Dulu....
Masuk FKG ga tahu harus bagaimana. Lama kelamaan, dengan dibimbing oleh senior, akhirnya aku menjadi mahasiswa kura-kura. Sebuah istilah untuk mahasiswa yang memiliki rutinitas organisasi, disamping akademik, dimana ketika pulang tak langsung ke rumah tapi ada rapat atau kegiatan lain yang semacamnya. Semua berjalan lancar, karena memang semester 1 kegiatan akademik masih ringan. Banyak manfaat yang didapat, pengalaman, tanggung jawab, dan banyak teman.

Kemudian...
Semua menjadi berubah, ketika kegiatan akademik semakin banyak dan berat. Dan kegiatan organisasi pun semakin banyak, seperti besi yang tertarik oleh magnet. Semua menjadi semakin buruk, ditunjang dengan manajemen waktu yang buruk, semua menjadi gelap. Akademik terjun bebas dan organisasi keteteran. Semua seakan lingkaran setan, mudah untuk masuk tetapi sangat sulit untuk melepaskan diri.

Akhirnya...
Semester baru dimulai, masa bakti organisasiku berakhir, ada kesempatan untuk mengikuti periode selanjutnya, tetapi tidak aku lakukan. Keputusan yang aku ambil, keputusan yang sangat berat. Kuputuskan untuk fokus kembali ke akademik. Karena aku punya tanggung jawab sebagai pemegang beasiswa. Merasa bersalah ketika akademikku buruk. Meski banyak yang kecewa, meski banyak yang ga percaya, meski banyak yang menggunjing, biarlah, ini adalah keputusanku, harus aku pegang teguh dengan segala resiko.

Sekarang...
Kegiatan akademik membaik dan aku belajar tentang manajemen waktu. Hingga suatu ketika aku merindukan kegiatan organisasi. Kemudian aku mengikuti kepanitian, tak tanggung-tanggung, aku langsung dicalonkan jadi ketua. Sebuah hal yang tak dikira dan tentunya tak kuharapkan. Setelah bersikukuh menolak, akhirnya aku menjabat sebagai koor. Meski berat tapi aku terima sebagai konsekuensiku mengikuti kepanitiaan. Caraku mengatur grup yang aku bawahi, berbeda dengan dulu, dan aku harap ini lebih baik.

Dan juga...
Aku pun mengajak pacar untuk ikut panitia. Dia sejak kuliah tak pernah ikut panitia atau organisasi karena memang lingkungannya tak mendukung. Aku ajak dia untuk mengenalkan tentang dunia organisasi. Kuakui, pengalaman yang didapat ketika organisasi sangatlah banyak, dan aku yakin sangat berharga untuk masa datang. Mungkin ini kesempatan terakhir untuk ikut kepanitian sebelum klinik. Dan dia bersedia dengan senang hati. Aku yakinkan bahwa ini keputusan yang dia ambil dan harus bertanggung jawab atas segala keputusannya. Dan aku tekankan bahwa tak ada yang mudah di dunia ini, begitu pula kepanitiaan.

Kuyakin...
Ketika kita memiliki kemampuan dan kita tidak menggunakan untuk membantu sesama, itu adalah sebuah kesalahan. Sangat melelahkan memang, tapi kalau bukan kita, siapa lagi....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar